Kamis, 21 Maret 2019

Plasenta Previa


PLASENTA PREVIA
A.         Definisi
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada keadaan normal plasenta berada pada bagian atas uterus (Prawirohardjo, 2006).
Plasenta previa adalah posisi plasenta yang berada di segmen bawah uterus, baik posterior (belakang) maupun anterior (depan), sehingga perkembangan plasenta yang sempurna menutupi os serviks (Varney, 2006).

B.         Klasifikasi
Kasifikasi plasenta previa menurut Prawirohardjo (2006) didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu, yaitu :
1.       Plasenta previa totalis, apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta.
2.       Plasenta previa parsialis, apabila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta.
3.       Plasenta previa marginalis,  apabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan.
4.       Plasenta previa letak rendah, apabila plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus, akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir, pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm di atas pinggir pembukaan, sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir .
       Klasifikasi ini tidak didasarkan pada keadaan anatomic melainkan fisiologik, maka klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Umpamanya plasenta previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta previa parsialis pada pembukaan 8 cm (Prawirohardjo, 2006).
  
C.         Etiologi
Plasenta previa merupakan salah satu penyebab serius perdarahan pada periode trimester ketiga. Hal ini biasanya terjadi pada wanita dengan kondisi sebagai berikut :
1.    Paritas
2.    Usia ibu
3.  Riwayat pembedahan rahim, termasuk seksio sesarea (risiko meningkat seiring peningkatan jumlah seksio sesarea).
4.    Kehamilan kembar (ukuran plasenta lebih besar).

Penyebab plasenta previa secara pasti sulit ditentukan, tetapi ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa, misalnya bekas operasi rahim (bekas cesar atau operasi mioma), sering mengalami infeksi rahim (radang panggul), kehamilan ganda, pernah plasenta previa, atau kelainan bawaan rahim.

D.         Faktor Predisposisi dan Presipitasi
Menurut Mochtar (1998), faktor predisposisi dan presipitasi yang dapat mengakibatkan terjadinya plasenta previa adalah :
a.    Melebarnya pertumbuhan plasenta :
1)    Kehamilan kembar (gamelli).
2)   Tumbuh kembang plasenta tipis.
b.    Kurang suburnya endometrium :
1)   Malnutrisi ibu hamil.
2)   Melebarnya plasenta karena gamelli.
3)   Bekas seksio sesarea.
4)   Sering dijumpai pada grandemultipara.
c.     Terlambat implantasi :
1)      Endometrium fundus kurang subur.
2)      Terlambatnya tumbuh kembang hasil konsepsi dalam bentuk blastula yang siap untuk nidasi.

E.       Tanda dan Gejala
a.    Perdarahan tanpa nyeri.
b.    Perdarahan berulang.
c.    Warna perdarahan merah segar.
d.   Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah.
e.    Timbulnya perlahan-lahan.
f.     Waktu terjadinya saat hamil.
g.    His biasanya tidak ada.
h.    Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi.
i.      Denyut jantung janin ada.
j.      Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina.
k.    Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul.
l.      Presentasi mungkin abnormal.

Gejala paling khas dari plasenta previa adalah perdarahan pervaginam (yang keluar melalui vagina) tanpa nyeri yang pada umumnya terjadi pada akhir triwulan kedua. Ibu dengan plasenta previa pada umumnya asimptomatik (tidak memiliki gejala) sampai terjadi perdarahan pervaginam. Biasanya perdarahan tersebut tidak terlalu banyak dan berwarna merah segar.

F.     Komplikasi
Berikut ini adalah kemungkinan komplikasi plasenta previa oleh Usta (2005) :
a.    Pertumbuhan janin lambat karena pasokan darah yang tidak mencukupi.    Adanya atrofi pada 
     desidua dan vaskularisasi yang berkurang menyebabkan suplai darah dari ibu ke janin berkurang. 
     Dalam darah terdapat oksigen dan zat-zat makanan yang dibutuhkan tubuh janin untuk 
     berkembang. Kekuranagan suplai darah menyebabkan suplai makanan berkurang 
     (Prawirohardjo, 2006).
b.     Anemia janin. Tekanan yang ditimbulkan terus menerus pada plasenta akan mengurangi sirkulasi 
      darah antara uterus dan plasenta sehingga suplai darah ke janin berkurang (Prawirohardjo, 2006).
c.    Janin yang tertekan akibat rendahnya pasokan oksigen. Berkurangnya suplai darah berarti suplai 
     oksigen dari ibu ke janin juga berkurang (Prawirohardjo, 2006).
d.   Shock dan kematian ibu jika pendarahan berlebihan. Pada kasus yang terbengkalai, bila ibu tidak 
    mendapatkan pertolongan transfuse darah akibat banyak kehilangan darah akibat perdarahan hebat 
    dapat menyebabkan shock bahkan kematian pada ibu (Prawirohardjo, 2006).
e.    Infeksi dan pembentukan bekuan darah. Luka pada sisa robekan plasenta rentan menimbulkan 
     infeksi intrauterine.ibu dengan anemia berat karena perdarahan dan infeksi intrauterine, baik 
     seksio sesarea maupun persalinan pervaginam sama-sama tidak mengamankan ibu maupun 
     janinnya (Prawirohardjo, 2006).
f.    Kehilangan darah yang membutuhkan transfuse. Kehilangan banyak darah akibat perdaahan hebat 
     perlu mendapatkan pertolongan transfuse segera. Perdarahan merupakan factor dominant 
     penyebab kematian maternal khususnya di Negara Indonesia (Prawirohardjo, 2006).
g.  Prematur, pengiriman sebelum minggu ke-37 kehamilan, yang biasanya menimbulkan risiko 
     terbesar pada janin (Cunningham, 2006).
h.   Cacat lahir. Cacat lahir terjadi 2,5 kali lebih sering pada kehamilan yang dipengaruhi oleh 
     plasenta previa daripada kehamilan tidak terpengaruh. Penyebab saat ini tidak diketahui 
     (Cunningham, 2006).

Masalah dan komplikasi lain adalah:
a.    prolaps tali pusat
b.    prolaps plasenta
c.    plasenta melekat, sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan.
d.   Robekan-robekan jalan lahir karena tindakan
e.    Perdarahan post partum
f.     Infeksi karena perdarahan yang banyak
g.    Bayi premature atau lahir mati.
h.    Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena perdarahan, 
      endometritis pasca persalinan.
i.      Pada janin biasanya terjadi persalinan premature dan komplikasinya seperti asviksia berat sampai 
      kematian.

G.     Penatalaksanaan
1)   Terapi ekspektatif (pasif)
Tujuan ekspektatif ialah supaya janin tidak terlahir prematur, penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servisis. Upaya diagnosis dilakukan secara non invasif. Pemantauan klinis dilakukan secara ketat dan baik (Prawirohardjo, 2006).
Syarat-syarat terapi ekspektatif :
a.    Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti.
          Penanganan pasif pada kasus kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit kemudian berhenti di maksudkan dapat memberikan kesempatan pada janin untuk tetap tumbuh dan berkembang dalam kandungan sampai janin matur. Dengan demikian angka kesakitan dan kematian neonatal karena kasus preterm dapat ditekan (Prawirohardjo, 2006).
b.    Belum ada tanda-tanda in partu.
          Menunda tindakan pengakhiran kehamilan segera pada kasus plasenta previa bila tidak terdapat tanda-tanda inpartu ditujukkan untuk mempertahankan janin dalam kandungan. Hal ini memberikan peluang janin untuk tetap berkembang dalam kandungan lebih lama sampai aterm, dan dengan demikian pula kemungkinan janin hidup di luar kandungan lebih besar lagi (Prawirohardjo, 2006).
c.    Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal).
          Selama ibu tidak memiliki riwayat anemia, terapi pasif dapat dilakukan karena kemungkinan perdarahan berkelanjutan kecil terjadi karena kadar Hb normal bila sebelumnya tidak dilakukan pemeriksan dalam (Prawirohardjo, 2006).
d.   Janin masih hidup.
          Bila janin masih hidup, berarti besar kemungkinan janin masih dapat bertahan dalam kandungan sampai janin matur. Sehingga tidak perlu mengakhiri kehamilan dengan segera karena hanya akan memperkecil kesempatan hidup janin bila sudah berada di luar kandungan (Prawirohardjo, 2006).

2)      Terapi aktif
Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak, harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin. Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa (Prawirohardjo, 2006).
a.    Seksio sesarea
Prinsip utama dalam melakukan seksio sesarea adalah untuk menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tak punya harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilakukan (Prawirohardjo, 2006).
b.    Melahirkan pervaginam

Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
1)   Amniotomi dan akselerasi
Umumnya dilakukan pada plasenta previa lateralis/ marginalis dengan pembukaan > 3 cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, plasenta akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika kontraksi uterus belum ada atau masih lemah, akselerasi dengan infus oksitosin (Prawirohardjo, 2006).
2)   Versi Braxton Hicks
Tujuan melakukan versi Baxton Hicks ialah mengadakan tamponade plasenta dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak dilakukan pada janin yang masih hidup (Prawirohardjo, 2006).
3)   Traksi dengan Cunam Willet
Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian beri beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk menekan plasenta dan seringkali menyebabkan pendarahan pada kulit kepala. Tindakan ini biasanya dikerjakan pada janin yang telah meninggal dan perdarahan tidak aktif (Prawirohardjo, 2006).
Menurut Manuaba (2008) Plasenta previa dengan perdarahan merupakan keadaan darurat kebidanan yang memerlukan penanganan yang baik. Bentuk pertolongan pada plasenta previa adalah:
1)        Segera melakukan operasi persalinan untuk dapat menyelamatkan ibu dan anak untuk 
        mengurangi kesakitan dan kematian.
2)        Memecahkan ketuban di atas meja operasi selanjutnya pengawasan untuk dapat melakukan 
        pertolongan lebih lanjut.
3)        Bidan yang menghadapi perdarahan plasenta previa dapat mengambil sikap melakukan rujukan 
        ke tempat pertolongan yang mempunyai fasilitas yang cukup.   







Daftar Pustaka
Chandranita Manuaba, Ida Ayu, dkk. 2009. Buku Ajar Patologi Obstetri . Jakarta. EGC.
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. . Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT.Bina Pustaka Sarwono
Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Varney, Hellen,dkk. 2008. Buku Ajar Asuha Kebidanan, Volume 2. . Jakarta: EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar